Antara Anak Jalanan Dengan Anak Menteng, Lo Suka Yang Mana ?

Rabu, Desember 09, 2015

Review anak Jalanan dan Anak Menteng
Anak Jalanan versus Anak Menteng.
Halow lagi bocah kos, bagaimana masih sehat semua kan? Meskipun jadi anak kos, kesehatan perlu tetap terjaga. Sembari menunggu apapun kegiatan kamu, yuk simak review singkat mengenai program televisi yang lagi naik daun. Adalah Anak Jalanan yang berada di stasiun televisi RCTI dan Anak Menteng yang tayang di stasiun televisi SCTV.

POSITIF
Entah kenapa belakangan film-film seperti ini banyak mendapatkan respon dari para netizen dan penonton setianya. Ada banyak komentar positif ada juga banyak komentar negatif. Komentar postifinya adalah, penontong mulai menyukai tema, konsep dan kualitas film yang mulai lebih terbuka yang maksudnya lebih menjadi real action. Karena memang penonton mulai jenuh dengan sinetron penuh drama yang hanya memecahkan piring, gelas dan kaca melulu serta isian penuh intrik dan fitnah-fitnah gak mutu. Anak Jalanan yang tayang di RCTI memberikan jawaban yang lantang mengenai tantangan ini. Komentar lain pun muncul mengenai pengarahan mengenai perbedaan antara geng motor dengan club motor. Mengarahkan proses penyelesaiaan dengan cara-cara persuasif.

NEGATIF
Namun, tidak kalah banyak juga komentar miring yang didapatkan sinetron action drama ini. Selain jam tayang yang memakan waktu selama 2 jam, dimana saat itu adalah waktu produktif untuk belajar anak-anak menjadi terganggu karena anak-anak lebih memilih menonton acara sinetron ini ketimbang belajar. Tentu ini mendapatkan poin yang buruk bukan untuk anak-anak. Disamping itu, program yang ini cenderung diperankan oleh anak sekolah namun berisi pertengkaran yang berujung perkelahian atau adegan fight. Ini juga menjadikan program ini mendapatkan citra yang buruk oleh masyarakat. Ada lagi tentang penggunaan sepeda motor sport keren yang menjadi media utama di program ini. Tentunya ini menjadi standar yang tinggi dalam sebuah pergaulan anak sekolahan. Anak-anak memiliki tuntutan kepada orang tua untuk memiliki kendaraan semewah dan se-sport itu. So, menimbulkan ketimpangan sosial bukan ?. Ya jika orang tua bisa memenuhinya namun jika tidak ?.

Ada lagi kesan negatif yang dikhawatirkan adalah kisah percintaan yang jauh lebih dieksplore ketimbang aktifitas belajar mengajarnya. Meskipun itu tetap ada tapi dirasa oleh masyarakat masih sangat kurang.

-----------------------------------

Wihhhh,, ternyata banyak negatifnya yah guys. Tapi saya tidak akan membahas jauh mengenai positif atau negatif. Sejak tayangnya Anak Jalanan, film-film serupan mulai bermunculan. Film bergenre action drama dengan konsep utama menggunakan media motor sport menjadi favorit pemirsa televisi. Ada pula GGS Returns yang juga menggunakan  motor sport dalam programnya, dan yang terakhir baru-baru ini adalah Anak Menteng yang juga mengedepankan motor sport berjenis trail.

Jujur saja saya suka film seperti ini, banyak action yang ditampilkan. Namun, menurut kamu apakah sudah cukup baik kualitas yang diberikan oleh masing-masing program sinetron tersebut?

Inilah review dari kacamata saya antara sinetron Anak Jalanan dengan Anak Menteng.

ACTION
Dari adegan action untuk Anak jalanan saya rasa sudah cukup baik dan terlihat real. Meskipun terkadang ada yang tampak aneh karena terlihat seperti tidak menyentuh dan efek-efek yang berlebihan. Pada Anak Menteng saya justru kurang suka dari hasil editing actionnya yang sering dibuat seperti gambar komik. Ini seperti pada film GGS yang pertama. Menurut saya editan seperti itu sangat tidak enak di mata. 

ADEGAN BALAP
Nah, untuk adegan balap saya masih menyukai Anak Jalanan, bukan karena program ini sudah tayang lebih lama, namun pada proses pengambilan gambar Anak Jalanan mampu memberikan konsep yang lumayan keren. Sebenarnya Anak Menteng juga memiliki kualitas yang sama, namun terkadang speed yang dipercepat itu sangat tampak sekali. Anak Jalanan memberikan konsep motor sport lebih luas memang. Beberapa jenis club motor tampak dalam program Anak Jalanan, termasuk club motor Anak Menteng yang menggunakan jenis motor Trail. Sedangkan pada sinetron Anak Menteng justru sepertinya memang fokus pada club Anak Menteng yang memang menggunakan jenis motor Trail. Tapi untuk adegan balap di jalanan keduanya mungkin memiliki karakteristik yang sama. Melakukan aksi meliuk-liuk, standing dan juga aksi-aksi lainnya.

DRAMA
Anak jalanan memang menyelipkan sedikit komedi dalam keluarga dan beberapa pemeran lain, dan menurut saya cukup banyak yang membuat Anak Jalanan menjadi tidak jenuh seperti film action luar yang memeiliki ciri yang sama. Sedangkan Anak Menteng lebih ke arah serius, dan hanya beberapa peran yang memerankan komedi (lucu).

Tapi di keduanya ada kelemahan yang besar yang menurut saya itu menjadi membosankan. Yaitu adalah adegan seperti "mengingat" yang ditampilkan berupa gambar video (diulang) lagi. Tayangan seperti itu sudah memakan waktu mungkin bisa setengah jam sendiri untuk memutar ingatan. Jadi isi acaranya sendiri di hari itu hanya sedikit sekali. 

Dari beberapa sumber | liputan6.com, POPMAGZ.com dan Wowkeren.com

Secara keseluruhan memang mirip, namanya juga action balap. Jalan ceritanya mungkin tidak jauh berbeda. Kita lihat saja nanti Anak Menteng bagaimana sambutannya oleh pemirsa televisi. Apakah bisa menyalip Anak Jalanan yang selalu nangkring di posisi 1 trending topic Indonesia. Serial Elif Season 2 yang digadang-gadang bisa menyalip Anak Jalanan justru malah turun ke posisi kelima dengan rating 3,6 dan poin share 16,9. Sedangkan hari Minggu makin turun di posisi enam dengan rating 3,1 dan poin share 15,2 persen. Sedangkan Anak Jalanan tetap kokok di posisi pertama dengan rating 7,1 dan poin share 30 persen pada rangking ABC. 

Senin, 7 Desember 2015 kemarin Anak Menteng siap menghadang Anak Jalanan, akan tetapi penayangan Anak Jalanan special dengan waktu tayang 4 jam ternyata mampu mengungguli Anak Menteng yang meraih TVR 3.0 dan TVS 11,8 persen. Sedangkan Anak Jalanan 8,4 dan share 34,7 persen.

Bagaimana menurut kamu ? Suka yang mana yah ? Ini hanya berdasarkan dari kaca mata saya sebagai penonton. Entah jika kamu yang menilai, pasti berbeda juga.

/Fu

You Might Also Like

0 komentar

Web Counter

Follow on Twitter

JOIN WITH US

Fajar Umarsandi    Lihat profil LinkedIn Fajar UmarsandiFajar Umarsandi


Instagram

Subscribe